Senin, 23 Desember 2013

TUGAS KE 2 PSIKOLOGI MANAJEMEN (KEKUASAAN)

Anggota kelompok :
Achmad Nursidik       : 13509020
Armono                       : 13509517
Imas Amalia               : 15509505
Siti Utami                   : 13509449

TUGAS KE 1
KEKUASAAN
A.  Definisi Kekuasaan
Kekuasaan berkaitan erat dengan pengaruh (influence), yaitu tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang lain atau kelompok (organisasi).
Menurut Robbins (2008), kekuasaan (power) mengacu pada kemampuan yang dimiliki A untuk mempengaruhi prilaku B, sehingga B bertindak sesuai keinginan A. Definisi tersebut mengimplikasikan bahwa sebuah potensi yang tidak perlu diaktualisasikan agar efektif (potensi B) dan sebuah hubungan ketergantungan (A→B, B→A).
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah lakunya seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu (Budiardjo,1972).
Menurut Galtung (dalam Anshory, 2008) kekuasaan adalah daya yang berasal dari sesuatu yang satu, sesuatu yang dimiliki oleh seorang individu, dan juga dari posisi dalam suatu struktur.
Berdasarkan beberapa teori kekuasaan di atas, dapat disimpulkan bahwa kekuasaan merupakan kemampuan untuk menggunakan pengaruh yang dimilki kepada orang lain, baik secara individu maupun kelompok. Artinya kemampuan untuk mengubah keputusan atau sikap maupun tingkah laku individu ataupun kelompok, yang diarahkan untuk mengarah pada kejadian atau tujuan yang diharapkan terjadi sesuai dengan keinginan orang yang berkuasa atau keinginan bersama (kelompok).
B.  Bentuk-bentuk kekuasaan
Secara umum kekuasaan terdiri dari 2 bentuk, antara lain :
1.   Kekuasaan posisi formal
Merupakan kekuasaan yang di peroleh melalui posisi yang dimiliki dalam organisasi. Kekuasaan ini didasarkan pada posisi seorang individu dalam organisasi. Kekuasaan ini dapat berasal dapat berupa perilaku memaksa dan memberi imbalan berdasarkan wewenang formal yang dimiliki oleh seorang individu dalam organisasi sesuai dengan posisi, kedudukan atau pangkat individu tersebut dalam organisasi dimana individu tersebut berada. Kekuasaan merupakan fakta penting dari kehidupan organisasi. Misal, manajer tidak hanya harus menerima dan memahami kekuasaan yang ia miliki sebagai bagian dari pekerjaan, tetapi juga harus belajar bagaiman cara menggunakan kekuasaan yang ia miliki dengan benar dan tanpa menyalahgunakannya demi tercapainya sasaran pribadi dan organisasi.
2.   Kekuasaan pribadi
Yaitu kekuasaan yang bersumber dari dalam diri seorang individu dan mendapatkan apresiasi yang besar dari orang lain. Apreisasi itu dapat berupa perilaku  mengagumi, perilaku hormat serta perasaan keterikatan, baik secara emosi maupun struktural (dalam organisasi). Apresiasi terhadap kekuasaan pribadi diberikan oleh individu yang dapat dipengaruhi oleh kekuasaan pirbadi tersebut. Individu yang dapat dipengaruhi oleh kekuasaan pribadi tersebut merupakan pengikut si pemilik kekuasaan pribadi, baik pengikut dalam konteks emosi maupun struktural (dalam organisasi).

C.  Macam-macam kekuasan berdasarkan sumber kekuasaan.
Menurut John B & B. Raven (dalam Noviyanto), berdasarkan sumbernya, kekuasaan terbagi atas 5, antara lain :
1.   Coercive Power (kekuasaan memaksa)
Coercive Power diakui dengan adanya adalah rasa takut oleh orang lain. Seseorang memberikan reaksinya terhadap kekuasaan ini karena rasa takut terhadap akibat-akibat negative yang mungkin terjadi jika tidak patuh. Dalam pengaplikasian Coercive Power pemegang kekuasaan dapat mengandalkan ancaman, sanksi fisik (hukuman) yang menimbulkan rasa sakit dan rasa frustasi melalui pembatasan gerak, atau pengendalian paksa terhadap kebutuhan dasar fisiologis atau keamanan bagi pihak pembangkang kekuasaan atau tidak melaksanakan perintah si pemilik Coercive Power dengan baik atau benar.

2.   Reward Power (Kekuasaan Imbalan atau Menghargai)
Reward Power merupakan kekuasaan kebalikan dari Coercive Power, adalah kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seorang dalam memberi penghargaan pada orang lain yang dipengaruhi untuk melakukan perintah individu tersebut sebagai seorang pemberi pengaruh atau pemilik kekuasaan.
Imbalan atau bentuk menghargai dapat berupa atau bersifat finalsial seperti pengendalian tingkat upah, kenaikan upah, dan bonus. Atau bersifat non-finasial, berupa pengakuan, promosi, penugasaan kerja yang menarik, kolega yang ramah dan wilayah kerja atau wilayah penjualan yang disukai.

3.   Legitimate Power (Kekuasaan sah)
Legitimate Power merupakan kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan yang timbul dari pengakuan pihak yang dipengaruhi bahwa si pemberi pengaruh benar-benar berhak untuk menggunakan kekuatan pengaruh yang dimiliki sampai batas waktu yang sudah ditentukan maupun belum. Landasan Legitimate Power adalah posisi struktural individu dalam organisasi tempatnya berada, landasan kekuasaan ini isa lebih dari satu landasan. Legitimate Power melambangkan kewenangan formal untuk mengendalikan dan memanfaatkan sumber-sumber daya organisasi. Secara spesifik, kekuasaan ini mencakup penerimaaan wewenang suatu jabatan oleh semua anggota dalam sebuah organisasi.

4.   Expert Power (kekuasaan ahli)
Expert Power adalah kekuasaan atau pengaruh yang diperoleh atau dimiliki karena keahlian, ketrampilan khusus atau pengetahuan yang dimiliki. Expert Power didasarkan pada persepsi atau keyakinan bahwa si pemberi pengaruh memiliki keahlian yang relevan atau pengetahuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. Pada Expert Power, keahlian atau pengetahuan merupakan sumber pengaruh yang paling kuat karena semakin terspesialisasi suatu pekerjaan, membuat individu-individu yang terkait dengan pekerjaan tersebut dan tidak memiliki keahlian atau pengetahuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan baik, maka semakin besar ketergantungan kepada para ahli untuk pencapaian tujuan pekerjaan tersebut.

5.   Referent Power (kekuasaan rujukan)
Referent Power bisa dimiliki oleh individu atau kelompok orang yang didasarkan atas identifikasi pihak yang menerima pengaruh terhadap si pemberi pengaruh yang dianggap mampu atau pantas menjadi contoh atau panutan karena memiliki sumber atau sifat-sifat personal yang menyenangkan (kharisma, keberanian, simpatik, dan lain-lain).

Pada sumber lain disebutkan bila John B & B. Raven memiliki 6 macam kekuasaan berdasarkan sumber, dan ini 1 macam kekuasaan yang belum disebutkan di atas, yaitu :
Ø Control of informations power (kekuasaan pengendalian informasi)
Merupakan kekuasaan dalam bentuk pemberian atau penahanan informasi yang dibutuhkan bagi individu yang tidak memiliki informasi yang dimuliki oleh si pemiliki kekuasaan pengendalian informasi.

D.  Tipe-tipe Kekuasaan
Tiga tipe kekuasaan menurut Galtung (dalam Anshory, 2008) :
1.   Being Power (kekuasaan ada)
Kekuasaan yang diperoleh karena pembawaan sejak lahir yang berhubungan dengan dimensi “ada”.
2.   Having Power (kekuasaan memiliki)
Kekuasaan yang diperoleh karena “memiliki” sumber-sumber kemakmuran.
3.   Resource Power (kekuasaan sumber)
Kekuasaan ini diperoleh atas penggabungan antara dimensi “ada” dan “memiliki”, alasan dari penggabungan tersebut karena adanya perbedaan kekuasaan (difference power) dalam segi “ada” dan “memiliki” kekuasaan sumber yang termasuk dalam perspektif orientasi perilaku.
4.   Structure Power (kekuasaan struktural)
Kekuasaan yang diperoleh karena “kedudukannya” dalam suatu struktur organisasi. Kekuasaan struktural berasal dari kekuasaan relasi (relation power), karena orientasi kekuasaan ini yang berdasarkan pada struktural.
Sebagai contoh, suatu bangsa yang kaya akan sumber-sumber alam, dan memiliki banyak senjata, serta terletak di pusat struktur perdagangan dunia (posisi geografis yang strategis). Modal tersebut membuat bangsa tersebut memiliki sumber kekuasaan yang besar serta kekuasaan struktur yang besar pula, karena ia berada dipusat relasi bilateral dan multilateral. Dengan demikian, bangsa tersebut semakin memiliki banyak informasi dan sumber kekayaan fisik yang dapat dijual kepada bangsa lainnya.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa banyaknya dan besarnya kekuasaan merupakan penjumlahan dari sumber kekuasaan utama dan sumber kekuasaan pelengkap. Untuk mengukur jumlah kekuasaan yang besifat materil seperti kekuasaan fisik, sarana kekuasaan berupa kekayaan, keahlian dan masa yang terorganisasi mungkin tidak terlalu sulit. Namun jumlah kekuasaan yang bersifat nonmaterial seperti kekuasaan normatif dan popularitas pribadi mungkin sulit diukur tetapi dapat dirasakan.
E.  Cara menggunakan kekuasaan dengan baik
Penggunaan kekuasaan selalu menimbulkan persepsi dari pihak penerima pengaruh kekuasaan, baik persepsi atau pandangan terhadap kekuasaan dengan wajah positif maupun dengan wajah negatif.
Pandangan atau persepsi terhadap kekuasaan dengan wajah positif yang paling baik dicirikan dengan perhatian yang baik pemilik kekuasaan terhadap struktur kelompok. Misal : seorang manajer akan mendorong staff-nya untuk mengambangkan kekuatan dan kompetensi yang diperlukan untuk sukses sebagai individu dan sebagai anggota dari organisasi.
Pandangan atau persepsi terhadap kekuasaan dengan wajah negatif mengartikan bahwa kekuasaan yang ada sebagai kekuasaan yang menganggap orang yang dikuasai sebagai sesuatu yang tidak lebih dari pion yang ada hanya untuk digunakan atau dimanfaatkan, serta dikorbankan bila itu memang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh si pemilik kekuasaan. Pandangan ini dapat menyebabkan kegagalan bagi pemilik kekuasaan, karena individu yang dijadikan pion cenderung akan menentang wewenang atau menerima perintah dengan sangat pasif. Apapun yang terjadi sebagai dampak dari pandangan terhadap kekuasaan dengan wajah negatif, nilainya amat terbatas bagi manajer.
1. Karakteristik kunci menangani kekuasaan dengan sukses menurut John P Kotter (dalam Novianty), antara lain :
a.    Peka terhadap sumber kekuasaan mereka, menjaga tindakan tetapi tetap kosisten dengan harapan orang.
b.   Mengakui perbedaan biaya, resiko dan manfaat dari lima kekuasaan dasar, menggunakan dasar kekuasaan manapun yang sesuai dengan situasi atau orang tertentu.
c.    Menghargai bahwa setiap dasar kekuasaan mempunyai keunggulan, mencoba mengembangkan keterampilan dan kredibilitas mereka sehingga dapat menggunakan metode apa pun yang paling baik.
d.   Mempunyai sasaran karier yang membuat mereka mengembangkan dan menggunakann kekuasaan, membuat orang merasa tergantung padanya, dan menggunakan salah satu tipe kekuasaan yang paling mungkin untuk dipakai.
e.    Bertindak secara dewasa dan mengembangkan kendali diri, menghindari menonjolkan kekuasaan secara angkuh dan mencoba untuk bertindak tidak kasar bila tidak diperlukan.
f.    Memahami bahwa kekuasaan perlu untuk melaksanakan pekerjaan, merasa senang menggunakan kekuasaan untuk mendorong keberhasilan pelaksanaan tugas organisasi.
                                       
2. Arti kunci kekuasaan menurut R.M. Kanter (dalam Novianty), antara lain :
a.    Aktivitas luar biasa
Yaitu membuat perubahan, menempati suatu posisi atau berhasil mengambil resiko yang besar akan mendorong kepemilikan kekuasaan.

b.   Visibilitas  
Yaitu menjadi dikenal atau memperoleh kesempatan diperkenalkan dengan pemegang kekuasaan akan mendorong kesuksesan menggunakan kekuasaan yang dimiliki.
c.    Relevansi
Yaitu memiliki kekuasaan yang berhasil berarti mampu meyelesaikan masalah organisasi yang otentik atau akurat.
d.   Sponsor  
Yaitu mempunyai sponsor atau mentor (seseorang yang memberi nasehat mengenai cara agar berhasil dalam organisasi) dapat menjadi sumber kekuasan informal, terutama bila sponsor memiliki kekuasaan yang cukup besar

Sumber Referensi :

Anshory, N. (2008). Dekonstruksi Kekuasaan. Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara Yogyakarta.
Budiarjo, M. (1972). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Noviyanto. (t.thn.). Materi Manajemen dan Sistem Informasi Manajemen, Pertemuan ke-2. Universitas Gunadarma.
Robbins, S., & Judge, T. (2008). Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar